Dua tahun lalu, gue memutuskan pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Bukan karena gue bosan sama apartemen, tapi karena harga sewanya makin lama makin bikin kantong bolong. Sebagai pekerja lepas, penghasilan gue nggak selalu stabil. Ada bulan yang ramai banget, ada juga bulan yang sepi orderan sampai gue cuma bisa scroll marketplace sambil ngelus kucing.
Nah, di rumah baru ini gue tinggal bareng Moli, kucing betina berumur sebelas tahun yang gue adopsi dari tetangga. Moli ini sudah tua, jalannya lambat, tapi masih suka ngikutin gue ke mana-mana. Dan justru dari tinggal bareng Moli inilah gue belajar banyak soal merawat rumah dan menghemat energi. Kedengarannya lebay, tapi serius.
Kulkas yang Berisik Itu Awal Semuanya
Minggu pertama di rumah baru, gue sadar ada yang aneh. Kulkas di dapur bunyinya kasar, kayak ada yang bergesek. Awalnya gue cuek, pikirku namanya juga kulkas sewaan. Tapi lama-lama bunyinya makin keras, dan tagihan listrik bulan pertama bikin gue kaget setengah mati.
Gue coba cek sendiri. Ternyata karet pintu kulkas sudah getas dan nggak rapat lagi. Udara dingin keluar, kulkas kerja lebih keras, listrik pun naik. Gara-gara hal sepele yang kalau nggak diperhatikan bisa bikin boncos. Gue ganti karet pintunya, cuma keluar sekitar lima puluh ribu, dan bunyi berisik itu hilang. Tagihan listrik bulan berikutnya turun lumayan.
Baca juga: Stop! 3 Salah Kaprah Rumah Tangga yang Bikin Usaha Kecil Boncos
Dari situ gue mulai sadar: hemat energi itu bukan soal beli alat canggih, tapi soal jeli sama barang-barang di rumah sendiri. Moli juga jadi lebih betah tidur dekat kulkas karena suaranya nggak berisik lagi. Ya, walau sebenarnya dia tidur di mana saja asal ada sinar matahari.
Kebiasaan Kecil yang Nggak Gue Sadari Boros
Setelah kejadian kulkas, gue jadi rajin ngubek-ngubek sudut rumah. Dan ternyata ada banyak kebiasaan gue yang bikin pemborosan tanpa sadar. Ini beberapa yang paling ngena:
- Charger tetap nyolok padahal HP sudah penuh. Sepele, tapi kalau ada tiga-empat charger nyolok terus seharian, tetap makan listrik. Sekarang gue cabut semua kalau nggak dipakai.
- Lampu nyala di ruangan kosong. Dulu gue sering lupa matiin lampu dapur atau kamar mandi. Sekarang gue biasain cek satu putaran sebelum duduk kerja lagi.
- Setrika buat satu-dua potong baju. Ini kebiasaan buruk banget. Setrika boros listrik kalau dinyalain buat hal kecil. Sekarang gue kumpulin cucian dulu, baru setrika sekaligus seminggu sekali.
- AC dinyalain sambil jendela kebuka. Klasik, tapi sering kejadian. Udara dingin kabur, AC kerja ekstra.
Yang menarik, Moli punya peran aneh dalam kebiasaan ini. Karena dia suka cari tempat hangat, gue jadi sering buka-tutup jendela biar dia bisa berjemur. Otomatis gue jadi lebih sadar soal sirkulasi udara. Kalau pagi sampai sore, gue cukup andelin angin dan sinar matahari, AC baru nyala menjelang malam. Rumah tetap sejuk, Moli senang, listrik hemat.
Pelajaran yang gue dapat: pemborosan energi itu jarang datang dari satu hal besar. Biasanya numpuk dari kebiasaan kecil yang kita anggap remeh.
Merawat Barang Itu Sebenarnya Menghemat Energi
Ini bagian yang paling gue rasain sebagai pekerja lepas. Penghasilan nggak selalu lancar, jadi kalau ada barang rusak, gue harus mikir dua kali sebelum beli baru. Solusinya ya rawat yang ada.
Gue mulai rutin bersihin filter AC sebulan sekali. Ternyata filter yang kotor bikin AC kerja lebih berat dan dinginnya nggak maksimal. Cukup siram pakai air, keringkan, pasang lagi. Nggak sampai sepuluh menit, tapi efeknya kerasa banget ke tagihan listrik dan ke kesejukan kamar.
Lalu soal mesin cuci. Dulu gue selalu nyuci baju sedikit-sedikit, hampir tiap dua hari. Sekarang gue kumpulin sampai satu keranjang penuh, baru nyalain mesin. Lebih hemat listrik, hemat air, dan hemat sabun. Moli sih nggak peduli, yang penting tempat tidurnya bersih.
Cek Rutin yang Gue Jadwalin Sendiri
Biar nggak lupa, gue bikin catatan kecil di HP. Isinya jadwal simpel: cek karet kulkas tiap tiga bulan, bersihin filter AC tiap bulan, cek lampu dan stopkontak tiap minggu. Nggak ribet, kok. Justru dengan catatan ini gue jadi nggak perlu mikir keras, tinggal lihat pengingat.
Gue juga mulai biasain matiin peralatan elektronik dari sakelarnya kalau nggak dipakai, terutama TV dan laptop cadangan. Katanya sih ada yang namanya daya hantu alias listrik yang tetap kepakai walau alat sudah dimatikan. Entah seberapa besar pengaruhnya, tapi yang gue rasain, tagihan gue memang lebih terkendali sekarang.
Yang Paling Gue Syukuri
Kalau dipikir-pikir, semua perubahan ini nggak dramatis. Gue nggak beli panel surya, nggak pasang alat pintar, nggak renovasi apa-apa. Gue cuma jadi lebih peduli sama barang-barang di rumah dan lebih sadar sama kebiasaan sendiri.
Dan lucunya, Moli tetap jadi bagian dari cerita ini. Kucing tua yang jalannya pelan itu bikin gue lebih sering duduk diam di rumah, memperhatikan hal-hal kecil. Suara kulkas, sinar matahari yang masuk lewat jendela, lampu yang lupa dimatikan. Semua jadi kelihatan.
Buat kamu yang juga kerja lepas dan sering di rumah, mungkin bisa mulai dari satu hal dulu. Cek kulkas, bersihin filter AC, atau sekadar biasain cabut charger. Nggak perlu langsung sempurna. Yang penting mulai, lalu rasain sendiri bedanya di tagihan dan di kenyamanan rumah. Siapa tahu, seperti gue, kamu juga jadi lebih betah di rumah bareng siapa pun yang menemani—entah kucing, anjing, atau cuma tanaman di sudut kamar.