Rabu, 4 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
18totox2.com18totox2.com
18totox2.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Coba Ingat Lagi, 4 Kebiasaan Orang Tua Saya yang B...

Coba Ingat Lagi, 4 Kebiasaan Orang Tua Saya yang Bikin Rumah di Kampung Nggak Boros

Pengalaman pribadi soal kebiasaan hemat energi dan rawat barang warisan orang tua di kampung yang masih relevan buat kita sekarang.

Coba Ingat Lagi, 4 Kebiasaan Orang Tua Saya yang Bikin Rumah di Kampung Nggak Boros

Gue tumbuh di sebuah kota kecil, tepatnya di pinggiran yang masih banyak sawah dan jalanan belum semuanya aspal. Rumah orang tua gue sederhana, listriknya cuma 900 watt, dan nggak ada AC sama sekali. Tapi anehnya, tagihan listrik mereka selalu kecil. Waktu gue pindah merantau dan mulai bayar tagihan sendiri, gue baru sadar ada banyak hal yang dulu gue anggap remeh ternyata itu yang bikin rumah mereka hemat.

Beberapa tahun lalu gue pulang kampung dan sempat tinggal sebulan di sana. Dari situ gue mulai memperhatikan lagi kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu gue lakukan tanpa mikir. Sekarang, setelah gue coba terapkan di rumah sendiri, hasilnya lumayan kerasa. Bulan pertama gue coba, tagihan listrik turun sekitar 15 persen. Nggak dramatis memang, tapi cukup buat nambah uang belanja.

Lampu Cuma Dinyalakan di Ruangan yang Dipakai

Ini yang paling sederhana tapi paling sering gue lupa. Di rumah orang tua gue, nggak ada lampu yang nyala di ruangan kosong. Kalau ada yang masuk kamar, nyalain lampu. Keluar, matiin. Simpel banget kan?

Baca juga: Ditemani Kucing Tua: Cara Saya Rawat Rumah Sambil Hemat Energi

Waktu gue masih tinggal di kos dulu, gue sering banget tidur dengan lampu kamar mandi nyala sepanjang malam. Alasannya takut gelap. Padahal lampu kamar mandi itu 18 watt, kalau nyala 8 jam sehari selama sebulan, lumayan juga. Belum lagi lampu teras yang sering lupa dimatikan sampai pagi.

Sekarang gue coba disiplin soal ini. Hasilnya, nggak cuma tagihan yang turun, lampu juga lebih awet. Bohlam di rumah gue yang sekarang udah dua tahun lebih belum ada yang ganti. Dulu, waktu masih boros nyalain lampu, hampir tiap 8 bulan gue ganti bohlam.

Orang tua gue dulu bilang: "Lampu itu bukan cuma soal listrik, tapi soal kamu menghargai barang." Waktu kecil gue nggak ngerti. Sekarang, baru paham.

Rawat Barang Elektronik Biar Nggak Cepat Rusak

Ini pelajaran kedua yang gue dapat. Orang tua gue punya kulkas satu pintu yang udah umurnya lebih dari 15 tahun. Masih nyala, masih dingin, dan nggak pernah servis besar. Rahasianya? Mereka rutin bersihin bagian belakang kulkas dari debu, dan nggak pernah naruh kulkas di dekat kompor atau sinar matahari langsung.

Gue dulu nggak peduli hal beginian. Kulkas gue di kos dulu cuma dua tahun udah rusak. Waktu gue tanya tukang servis, katanya karena kompresornya kerja terlalu berat. Ternyata karena kulkas gue ditaruh di dekat jendela yang kena matahari siang, plus bagian belakangnya penuh debu yang nggak pernah gue sentuh.

Sejak itu, gue mulai rutin bersihin bagian belakang kulkas sebulan sekali. Cukup pakai kuas kecil atau vacuum cleaner kalau ada. Nggak sampai 10 menit. Sejak rutin begini, kulkas gue udah hampir empat tahun dan belum ada masalah. Ini yang gue maksud soal hemat energi: kulkas yang dirawat itu kerjanya lebih ringan, jadi listriknya juga lebih hemat.

Hal Kecil yang Sering Dilupakan

  • Cabut charger HP dan laptop kalau udah nggak dipakai. Walau kecil, tetap ada daya yang tersedot.
  • Bersihin filter AC atau kipas angin sebulan sekali. Filter kotor bikin motor kerja lebih berat.
  • Jangan taruh rice cooker atau setrika di dekat barang yang gampang panas. Bisa bikin komponen cepet rusak.
  • Matikan TV dan perangkat lain dari tombolnya, bukan cuma remote. Standby mode tetap makan listrik.

Gunakan Barang Sampai Habis, Bukan Sampai Bosan

Ini mungkin yang paling susah gue terapkan. Zaman sekarang, kita gampang banget tergoda beli barang baru. Panci baru, kipas baru, setrika baru. Padahal barang lama masih berfungsi.

Ibu gue punya panci enamel yang udah penyok sana-sini tapi masih dipakai sampai sekarang. Setrika baju mereka juga udah umur belasan tahun, dan masih panas dengan baik. Bukan karena mereka nggak mampu beli, tapi karena prinsipnya: selama masih bisa dipakai, ya dipakai.

Gue akui, gue dulu sering beli barang karena bosan, bukan karena rusak. Kipas angin masih nyala, tapi karena modelnya udah kuno, gue beli yang baru. Setelah gue hitung-hitung, pengeluaran gue buat barang rumah tangga dalam setahun ternyata lumayan besar. Padahal kalau barang lama dirawat dengan benar, bisa dipakai bertahun-tahun lagi.

Sekarang gue coba ubah cara pikir. Sebelum beli barang baru, gue tanya dulu: ini rusak atau cuma bosan? Kalau cuma bosan, gue tunda dulu seminggu. Seringnya, setelah seminggu, keinginan belinya hilang sendiri.

Perbaiki Dulu, Jangan Langsung Ganti

Di kampung, hampir semua orang punya kenalan tukang servis atau minimal tukang ledeng langganan. Ini sebenarnya keuntungan besar yang sering kita lupakan. Di kota besar, orang lebih gampang beli baru daripada cari tukang servis.

Gue belajar dari bapak gue. Kalau ada barang rusak, dia nggak langsung beli baru. Dia coba bongkar dulu, atau tanya tetangga yang bisa servis. Kipas angin berisik? Dibersihin, dikasih pelumas. Setrika nggak panas? Dicek kabelnya, kadang cuma masalah kecil.

Gue coba terapkan ini. Tahun lalu, mesin cuci gue berhenti berputar. Gue hampir beli baru, tapi untungnya gue tanya dulu ke tukang servis langganan. Ternyata cuma masalah karet v-belt yang udah aus. Biaya perbaikannya nggak sampai seperlima harga mesin baru. Sejak itu, gue selalu coba perbaiki dulu sebelum ganti.

Yang penting di sini bukan soal pelit, tapi soal menghargai barang yang masih bisa dipakai. Dan ini juga soal hemat energi dalam arti lebih luas: hemat energi buat produksi barang baru, hemat energi buat distribusi, dan tentu saja hemat uang kita.

Kalau kamu tinggal di kota kecil atau desa, mungkin beberapa kebiasaan ini udah kamu lakukan tanpa sadar. Atau mungkin, seperti gue dulu, kamu udah mulai lupa karena tergoda gaya hidup yang serba instan. Nggak ada salahnya coba ingat lagi kebiasaan orang tua kita. Kadang yang paling sederhana justru yang paling masuk akal.

Tags: hemat energi rumah tangga perawatan barang hidup di desa kebiasaan hemat